Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Breaking News

Atlet Muda cidera… Mengapa ???

Dewasa ini banyak terjadi orang terkena gangguan jantung dan darah tinggi pada usia 30 tahunan, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin karena kebiasaan hidup yang kurang sehat. Namun anehnya cidera yang datang lebih awal ini juga terjadi pada atlet atlet muda. Memang gangguannya bukan berupa gangguan jantung dan tekanan darah tinggi, akan tetapi cidera cidera yang terjadi adalah karena proses degenerasi dan bukan karena trauma. Sebagai fisioterapis yang bayak menangani atlet khususnya bola basket banyak dijumpai atlet atlet muda yang sudah terkena gangguan jumpers knee, plantar facistis, impegement ankle dan gangguan gangguan lain yang bersifat degenarasi. Mengapa ini dapat terjadi  padahal atlet atlet tersebut memiliki pola hidup yang sehat.

Sebelum mengetahui kenapa ada baiknya diketahui bagaimana cidera cidera seperti diatas bisa terjadi. Cidera cidera seperti jumpers knee adalah cidera yang berbentuk non traumatik atau bukan karena adanya kecelakaan seperti salah jatuh, salah memukul atau lainnya. Cidera tersebut dikenal dengan istilah repetitive injury . Repetitive injury ini terjadi karena adanya truma yang berulang ulang pada tempat yang sama, seperti batu yang lama lama terkikis oleh karena hantaman ombak. Trauma ini terjadi karena adanya beban berlebih yang diterima oleh atlet. Pertanyaannya mengapa atlet bisa menerima beban berlebih padahal mereka latihan setiap hari.

Dalam olahraga prestasi  ada suatu bentuk latihan yang umum dikenal dengan nama strenght and condtioning . Latihan ini adalah latihan yang bersifat penguatan secara umum dan mempersiapkan kondisi umum atlet. Pada latihan ini atlet dipersiapkan untuk menerima beban yang lebih besar daripada beban sehari harinya. Yang sering menjadi persoalan atlet tidak menyadari bahkan cenderung malas melakukan latihan latihan strenght and conditioning tersebut. Memang latihan ini bersifat basic sehingga gerakan yang dilakukan monoton dan tidak rekreatif. Sehingga atlet mangkir dalam latihan tersebut. Padahal untuk dapat menerima beban latihan tekhnis maka tubuh harus dipersiapkan terlebih dulu dengan strenght and conditioning exercise.

Hasil dari latihan strenght dan condtioning adalah peningkatan kerja otot otot anti grafitasi yang berfungsi sebagai penjaga stabilisasi dan keseimbangan atlet. Bila atlet malas atau bahkan tidak melakukan latihan tersebut maka kerja otot otot anti grafitasi tersebut tidak akan optimal, akibatnya beban akan diterima oleh jaringan lain seperti ligamen, meniscus dan tulang rawan sendi yang tidak memiliki kemampuan beradaptasi terhadapa perubahan beban seperti otot.  Keadaan ini akan berdampak munculnya cidera berulang setiap kali atlet melakukan aktifitas olahraganya. Cidera tersebut dapat mengenai jaringan jaringan yang sulit beradaptasi seperti tulang rawan, meniscus, tendon (khususnya periosteal yaitu tendon yang melekat pada tulang), dan ligamen. Bagian yang sering mengalami keluhan adalah pada bagian yang banyak menumpu tubuh seperti lutut dan pergelangan kaki. Dan pada kenyataannya atlet atlet muda sekarang diusia yang masih pada periode emas sering merasakan keluhan nyeri pada lutut dan pergelangan kaki, bahkan angka kejdaian jumpers knee ( tendinitis pada tendon patela) hampir mengenai lebih dari 60 % atlet muda. Belum lagi keluhan pada pergelangan dan telapak kaki.

Atlet muda adalah modal bagi prestise bangsa, karena mereka adalah prestasi masa depan. Akan tetapi bagaimana bisa mereka mencapai prestasi tanpa kondisi yang mumpuni dan sering terkena keluhan nyeri . Bila cidera terjadi lebih awal maka prestasi tidak dapt tercapai. Maka menjadi tanggung jawab semua pelaku olahraga untuk memperhatikan sapek dasar dari suatu prestasi olahraga yaitu kekuatan dasar dan kondisi umum yang baik dari atlet. Dan tanggung jawab terbesar adalah pada atlet itu sendri bahwa latihan strength dan conditioning memang latihan yang membosankan akan tetapi mutlak untuk dilakukan. Karena dengan kekuatan otot otot anti grafitasi yang terlatih, maka atlet tersebut akan dapat terhindar dari cidera, dan buahnya adalah prestasi yang maksimal. Selamat berlatih

Sumber: Koran BOLA

About Syahmirza Indra Lesmana

Beliau yang dikenal dengan sebutan Pak Indra adalah Ketua Perhimpunan Fisioterapi Olahraga Indonesia (PFOI) periode 2014-2018 dan Dosen Fakultas Fisioterapi Olahraga Universitas Esa Unggul Jakarta. Pak Indra memfokuskan diri pada fisioterapi olahraga khususnya dalam pemulihan dan pencegahan cedera. Pak Indra tidak hanya aktif dalam praktik fisioterapi melainkan juga melakukan penelitian khusus pada permasalahan cedera olahraga.